logo sinta
PASTORAL PERSIAPAN EMIRITUS UNTUK PENDETA DI LINGKUNGAN GEREJA KRISTEN JAWA

Oleh: (01906901)
Dosen Pembimbing: CHRISTIAN SOETOPO,

Abstraksi

ABSTRAKPenulisan skripsi ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara jelas tentang arti pentingnya pastoral persiapan {pendampingan pastoral} terhadap pendeta yang akan memasuki masa emiritus di lingkungan Gereja Kristen Jawa. Metode yang dipakai dalam penulisan skripsi menggunakan metode penelitian secara deskripsi kualitatif, yang artinya berangkat dari anggapan: Pertama, penggunaan metode deskripsi kualitatif lebih mudah digunakan apabila berhadapan dengan kenyataan ganda. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan dapat lebih menyesuaikan diri dengan banyak penajaman-penajaman pengaruh bersama dan terhadap nilai-nilai yang dihadapi. Hal ini sesuai pula dengan teori yang dikemukakan Anton Boisen dengan "Dokumen-dokumen yang hidup." Dokumen-dokumen yang hidup ini pada dasarnya merupakan studi yang sistematis dan teliti atas kehidupan orang-orang dalam hal ini pendeta emiritus, yang sedang bergumul dengan pokok-pokok kehidupan rohani di dalam kekonkretan hubungan sosial mereka. Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini dengan teknik wawancara dan pengamatan langsung. Teknik wawancara yang digunakan adalah secara: terbuka (overt) dan terstruktur. Terbuka artinya wawancara yang para pelakunya tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara itu. Sedangkan wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Hasil penulisan (penelitian) : Pensiun bagi sebagian orang seringkali menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Hal ini disebabkan karena masa pensiun adalah masa berhentinya suatu tugas. Sehingga mereka yang semasa aktif mempunyai kedudukan, mempunyai bawahan dan kekuasaan, setelah pensiun kedudukan dan kekuasaan itu menjadi hilang. Mereka mungkin tidak lagi dihormati, jika dibandingkan semasa masih aktif.Sebutan mereka juga mulai berubah. Jika mereka semasa masih aktif menjabat sebagai camat, walikota, gubernur, guru dan sebagainya, setelah pensiun maka sebutan yang melekat pada diri mereka adalah "bekas" atau "man-tan" camat, walikota, gubernur, guru dan sebagainya. Selain terjadinya perubahan status yang melekat dalam dirinya, proses pensiun itu sendiri juga menyebabakan berkurangnya sumber penghasilan. Kenyataannya uang pensiun selalu berada dibawah uang penerimaan semasa mereka masih aktif bekerja. Penerimaan uang pensiun yang berlaku di Indonesia pada umumnya tujuh puluh lima persen dari gaji pokok. Kecuali berkurangnya penerimaan gaji, secara otomatis individu yang pensiun juga kehilangan sumber penghasilan di luar gaji yang bentuknya sangat bermacam-macam tergantung jabatan dan instansi di mana ia bekerja. Akibat dari berkurangnya sumber penghasilan ekonomi dan hilangnya status yang melekat pada diri individu karena mengalami pensiun, seringkali menimbulkan beberapa macam gangguan yang menyertai individu yang mengalami proses pensiun. Gangguan-gangguan tersebut dapat berupa: gangguan psikologis, ekonomi dan sosial. Selain itu juga gangguan fisik yang disebabkan karena faktor ketuaan. Timbulnya gangguan tersebut sebenarnya dapat diatasi jika setiap individu selalu mempersiapkan diri dalam menghadapi proses pensiun. Secara ekonomis, mereka harus sejak dini menabung untuk menghadapi hari tua. Secara psikologis, mereka harus menyadari bahwa proses pensiun merupakan proses yang alami. Dan individu yang pensiun dapat mempersiapkan kegiatan yang bermanfaat untuk mengisi masa pensiun, sehingga masa pensiun merupakan masa yang membahagiakan. Ada istilah lain yang sama artinya dengan pensiun, yang lazimnya dipakai dikalangan gereja untuk menyebut pendeta yang pensiun, yaitu emiritus. Hanya saja pada prakteknya terdapat perbedaan yang sangat tajam antara individu yang pensiun dengan pendeta emiritus. Pendeta yang mengalami emiritus, tetap disebut sebagai pendeta dan bukan "bekas" atau "mantan" pendeta, karena jabatan pendeta melekat seumur hidup.Pendeta yang mengalami emiritus hanyalah mengalami pelepasan secara struktur organisasi Gereja, bukan pelepasan secara total sebagaimana dialami para pegawai yaiag mengalami pensiun. Pelepasan secara struktur organisasi ini misalnya: berkotbah, menghadiri rapat Majelis, memimpin perjamuan, menerima pengakuan dosa dan melayankan sakramen. Namun demikian mereka sewaktu-waktu dapat melakukan tugas-tugas tersebut di atas jika diminta kembali oleh Gereja. Sehingga boleh dikatakan tugas pendeta yang mengalami emiritus tidak berbeda jauh jika dibandingkan sewaktu ia masih aktif. Pendeta emiritus masih mempunyai hubungan (ikatan) dengan Gereja di mana ia dahulu melayani. Inilah yang membedakan individu yang pensiun dengan pendeta emiritus. Namun pada kenyataannya di lapangan menurut hasil penelitian melalui pengamatan dan wawancara yang penyusun peroleh, masih ada beberapa pendeta yang mengalami gangguan-gangguan seperti halnya yang dialami oleh para pensiunan, yaitu gangguan ekonomi, psikologis, fisik dan sosial. Penyebab dari timbulnya gangguan yang dialami oleh para pendeta emiritus di lingkungan Gereja Kristen Jawa disebabkan karena baik Gereja maupun pendetanya sendiri tidak pernah mempersiapkan proses emiritat secara dini. Gereja-gereja di lingkungan GKJ kebanyakan tidak pernah mengadakan pembicaraan terlebih dahulu mengenai proses emiritus kepada pendeta yang akan mengalami proses emiritat. Gereja terkadang memakai patokan umur 60 tahun sebagai dasar untuk mengemiritat seorang pendeta. Akibatnya sering timbul konflik antara Gereja (Majelis) dengan pendeta yang akan diemiritat, sebab pendeta yang akan diemiritat bisa menolak proses emiritat dengan dasar ia masih merasa kuat dan masih merasa mampu dan ini tidak menyalahi Tata Gereja. Selain itu penerimaan "arta dhahar" (gaji pensiun pendeta) kebanyakan di bawah penerimaan "arta dhahar" sewaktu pendeta masih aktif, bahkan terdapat gereja yang tidak memberikan "arta dhahar" kepada pendetanya yang emiritus dengan alasan pendeta sudah menerima uang pensiun dari YDP. Menurut Tata Gereja, Gerejalah yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kehidupan pendeta emiritus beserta seluruh keluarganya, sedangkan uang pensiun YDPsekedar untuk membantu kehidupan pendeta. Kenyataannya justru terbalik. Uang pensiun YDP yang menjadi pokok, sedangkan Gereja hanya sekedar menambahi uang penerimaan YDP. Para pendeta emiritus, kebanyakan juga tidak pernah mempersiapkan diri (menggembalakan diri) dalam menghadapi proses emiritus. Mereka terkadang tidak rela untuk melepaskan jabatan pendeta dalam struktur organisasi Gereja sehingga mereka terkena narsisme (cinta diri yang sesat). Contoh dari pendeta yang terkena narsisme adalah mereka tidak mau diemiritus atau mereka meminta agar masa emiritusnva diundur. Secara ekonomi, pendeta tidak pernah mempersiapkan diri dengan cara menabung. Jemaat memang berkewajiban untuk memelihara kehidupan pendeta, akan tetapi pendeta tidak boleh bergantung sepenuhnya kepada jemaat. Gangguan-gangguan yang dialami pendeta emiritus dapat diatasi jika sejak dini, sejak pendeta itu pertama kali dipanggil telah disiapkan untuk menghadapi masa emiritusnya. Pendeta sejak dini harus mendapatkan pendampingan pastoral. Fungsi dari pastoral persiapan (pendampingan pastoral) terhadap pendeta adalah menolong agar dengan terang Injil dan persekutuan dengan Gereja Kristus dapat bersama-sama menemukan jalan keluar bagi pergumulan dan persoalan kehidupan dan iman. Pendeta juga perlu mendapatkan pertolongan dalam menghadapi pergumulan dan persoalan kehidupan dan iman. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa pendeta setelah keluar dari Gereja juga menghadapi masalah-masalah kehidupan duniawi sebagaimana yang dialami manusia biasa. Justru dalam menghadapi persoalan keduniawian ini, iman pendeta seharusnya tidak jatuh ataupun tidak goyah. Karena iman hanya memperoleh wujud dan kenyataan didalam keterlibatan dan tanggung jawab orang beriman berhadapan dengan soal-soal hidup aktual. Pendampingan pastoral terhadap pendeta yang akan memasuki masa emiritus dapat dilakukan oleh: anggota Majelis yang dituakan, pendeta tua dan seluruh anggotajemaat. Bentuk pendampingan pastoral dapat dilakukan dengan cara perkunjungan dan percakapan pastoral. Dari sini dapat dilakukan suatu "Lingkaran pastoral" atau juga sering disebut "Lingkaran praksis" atau "Lingkaran hermeneutik" yang meliputi: pemetaan masalah, analisis sosial, refleksi teologis dan perencanaan pastoral. Dengan pemetaan masalah dapat diketabui apa yang menjadi masalahnya, apa yang dirasa dan apa yang dialami. Dari sini dapat diketahui apa yang menjadi penyebab dan kaitannya. Setelah itu dilakukan suatu refleksi teologis, yaitu mengupayakan untuk memahami secara lebih luas dan mendalami pengalaman yang teiah dianalisis itu dalam terang iman yang hidup, Kitab Suci dan ajaran sosial Gereja. Langkah terakhir melakukan perencanaan (aksi) pastoral yang dapat berujud: secara iman, psikologis, ekonomi, sosial dan secara fisik.

File: Bagian Pendahuluan
Citation APA Style:

Suwardi, P. (1994). Pastoral Persiapan Emiritus Untuk Pendeta Di Lingkungan Gereja Kristen Jawa. (Undergraduate thesis, Duta Wacana Christian University, 1994). Retrieved from http://sinta.ukdw.ac.id

Find us on Google+