logo sinta
PENGEMBANGAN FASILITAS REKREASI AIR DI TEPIAN SUNGAI KAPUAS (TAMAN ALUN) PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT ARSITEKTUR TROPIS SEBAGAI ACUAN DESAIN BANGUNAN

Oleh: (21990757)
Dosen Pembimbing: EKO AGUS PRAWOTO,LUSIA KRISTIANI

Abstraksi

BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang 1.1.1 Peranan Pariwisata Dalam Pembangunan Pengembangan ke pariwisataan di indonesia tahun-tahun terakhir makin terus di galakkan dan di tingkatkan dengan sasaran sebagai salah satu sumber devisa andalan di samping minyak dan gas bumi. Hal ini telah di tunjang dengan seperangkat kebijakkebijakan dan ketetapan-ketetapan pemerintah demi pengembangan pariwisata, seperti yang tercantum dalam GBHN 1978 dan di pertegas dalam GBHN 1983 dimana pariwisata di nyatakan sebaga i Perlu di tingkatkan dan di perluas hingga akan dapat meningkatkan penerimaan devisa dan memperluas lapangan kerja. Pariwisata sering menjadi harapan sebagai pemasok pendapatan negara/ daerah dan sumber penambah dana segar bagi masyarakat. Pariwisata pada hakekatnya merupakan suatu fenomena lokal sehingga prospek pengembangan pariwisata akan mempengaruhi perkembangan daerah. Oleh sebab keterkaiatan nilai ekonomi padasektor pariwisata akan mendorong timbulnya kegiatan-kegiatan baru yang tumbuh di sekitar daerah tujuan wisata (DTW) dan akan mempengaruhi perkembangan ekonomi sektor informal masyarakat lokal. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa perencanaan pariwisata akan berpengaruh pada kesejahtraan daerah. Menurut undang-undang no 9 Tahun 1990 tentang kepariwisataan, pasal 1 angka3, pengertian pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik serta usaha- usaha yang terkait di bidang tersebut. Berpangkal tolak dari pengertian diatas, maka pariwisata merupakan suatu bentuk kegiatan manusia yang bertitik pangkal pada perjalanan atau dengan kata lain, pariwisata tersebut merupakan Manusia dalam perjalanan.1Pariwisata bagi kehidupan bangsa Indonesia memegang fungsi yang strategis dan mempunyai kedudukan serta peranan penting dalam mengatasi berbagai masalah pembangunan, khususnya di bidang pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial kemasyarakatan. 1.1.2 Tinjauan Obyek Wisata Di Kota Pontianak Kota Pontianak merupakan pintu gerbang Propinsi Kalimantan Barat dan merupakan pintu gerbang pariwisata di Kalimantan Barat. Letak kota Pontianak tepat berada pada garis khatulistiwa dan terbagi menjadi tiga bagian kota, yang di belah oleh sungai Kapuas dan sungai Landak, memiliki luas wilayah mencapai 10.782 ha, dengan ketinggian rata-rata 0,8 1,5 m dari permukaan laut 1 Sebagai pintu gerbang pariwisata di provinsi Kalimantan Barat, kota Pontianak memiliki obyek-obyek wisata yang khas dan merupakan keunikan dan daya tarik tersendiri yang di miliki oleh kota Pontianak sebagai daerah tujuan wisata, namun walaupun memiliki ke khasan dan keunikan sebagai daya tarik wisata fasilitas- fasilitas yang ada tersebut masih sangat minim. Adapun obyek-obyek wisata tersebut adalah sebagai berikut: Makam Raja Pontianak. Keraton Kadariyah. Tugu Khatulistiwa. Taman Alun Kapuas. Masjid Jami. Museum Negri Pontianak Rumah Adat Suku Dayak Pontianak1Pemerintah Kota Pontianak & PT. Arsekon Konsultan Tehnik, Studi Kelayakan Pembangunnan Kawasan Tepian Sungai Kapuas, 2001.2 Objek-objek wisata di kota Pontianak.Makam RajaKeraton Kadariyah Tugu EquatorTaman Alun Kapuas Peta Persebaran Obyek Wisata Kota PontianakKampung Beting .Masjid JamikMuseum Gambar 1.1: Obyek Wisata Di Kota Pontianak Sumber: Pontianak-Online.ComRumah Adat Dayak3Obyek-obyek wisata yang dimiliki oleh kota pontianak tersebut, tentu belum maksimal bagi kota Pontianak sebagai daerah tujuan wisata dan pintu gerbang pariwisata di Kalimantan Barat, dan belum memenuhi kebutuhan masyarakat akan sarana rekreasi yang memiliki kesesuaian dengan karakter kota yang bertipikal kota air, serta belum dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan di sektor ekonomi, pariwisata dan sosial kemasyarakatan. 1.1.3 Tepian Sungai Kapuas Sebagai Potensi Objek Wisata Kota Pontianak Sebagai ibu kota propinsi, kota Pontianak memiliki kekhasan yang di sebut dengan kota seribu parit atau sungai, ini dikarenakan memang banyaknya parit atau sungai yang membelah kota Pontianak dan oleh sebab itu juga kota Pontianak sangat bertipikal kota air.2 Kelebihan ini akan bernilai positif bagi perkembangan dan peningkatan pendapatan daerah dan masyarakat, jika sungai-sungai tersebut yang merupakan aset pariwisata yang dimiliki kota Pontianak dikelola dengan baik. Namun kondisi yang ada dari sepanjang kota yang sejajar dengan sungai pada kota Pontianak, pandangan yang khas dari karakteristik budaya serta lingkungan sekitar yang seharusnya dimiliki sebagai kota air/sungai, kurang dapat diperoleh dengan baik sehingga nuansa keunikan, keindahan, kehidupan, romantika, kesejukan pada waktu malam dan dinamika pada waktu siang yang seharusnya diperoleh dari lingkup tepian air/sungai tidak dapat ditangkap dan dinikmati. Hal tersebut disebabkan pemukiman pada masa lalu umumnya tumbuh di daerah tepian sungai tanpa adanya pengendalian pertumbuhan di sepanjang tepian sungai. Kecendrungan para pemukim mendekati sumber air bagi keperluan kegiatan mereka sehari- hari. Ketika kemudian permukiman-permukiman ini berkembang menjadi kota pada sepanjang tepian sungai, kiri dan kanan sunga i yang sejajar dengan jalan didirikan atau dibangun berbagai bangunan, gedung, dan rumah yang diperlukan bagi permukiman penduduk, pabrik, gudang, industri dan lain- lain. Hal ini menyebabkan disatu pihak kota menjadi pengab, kumuh, hingar-bingar, kotor, polusi, sehingga menjadikan kawasan tepian sungai tampak semerawut dan di lain pihak kawasan tepian sungai kehilangan2Pemerintah Kota Pontianak, op. cit.4fungsinya dalam memberikan kontribusi yang berarti di sektor sosial-budaya, ekonomi dan terutama dalam sektor kepariwisataan terhadap kota itu sendiri dan terhadap penduduk kota Pontianak. Oleh karena hal hal tersebut, akibatnya pemerintah kota pontianak harus menghadapi berbagai permasalahan seperti :3 Pemamfaatan lahan yang tidak efisien (tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinyasebagai aset pariwisata) ditinjau dari kontribusinya terhadap ekonomi kota (pada pusat pusat kota). Rusaknya atmosfir unit dan budaya tepi sungai yang menjadi ciri khas kota Pontianak, serta hilangnya kesempatan untuk memamfaatkan potensi kawasan tepi sungai sebagai generator ekonomi kota. Kecendrungan yang ada menjadikan sungai sebagai daerah belakang (tempat pembuangan) sehingga terjadi degradasi kualitas lingkungan maupun visual (estetika) Peruntukan sebagian besar lahan kawasan tepi sungai bagi kegiatan industri tanpa di ikuti pedoman pengaturan yang lebih rinci/operasional akan menyebabkan timbulnya masalah linkungan (polusi dan degradasi estetika kota). Hal-hal tersebut di atas tentunya menyebabkan kawasan tepian sungai menjadi kehilangan viewnya ya ng menarik (aktivitas sosial dan budaya yang ada disekitarnya) dan kehilangan potensinya sebagai aset wisata yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi dan sosial budaya kota Pontianak. Tentu ini sangat berbeda dengan apa yang dapat dilihat pada kota kota bagdad, irak, dengan sungai Tigris dan Eufrat, Kairo, Mesir dengan sungai Nil, Louisville, Kentucky, AS dengan sungai Mississipi, London, Inggris dengan sungai Thames, Kucing Malaysia dengan Sungai Sarawak dan bahkan lagi kota kota lain. Pada sungai-sungai tersebut menunjukkan bahwa tepian sungai berfungsi dalam memberikan kontribusi yang berarti baik terhadap kota maupun terhadap kepentingan kota-kota tersebut dalam arti yang lebih luas. Dari perbandingan antara beberapa kota tersebut di atas, pada kota Pontianak tampaknya perlu diadakan semacam usaha pembangunan dan pengembangan atas tepian3Pemerintah Kota Pontianak, op. cit.5sungainya bagi kepentingan warga kota dan kepentingan luas, termasuk pada sektor pariwisata, sosial budaya dan ekonomi; 4 Oleh karena itu salah satu yang harus dilakukan kota Pontianak adalah memamfaatkan dengan sebaik baiknya keuntungan alami, berupa lokasi yang strategis yang terletak di tepian sungai Kapuas sebagai kawasan wisata yang memiliki citra masyarakat kota air/sungai dan sosial-budaya (karakter lokal). Pada gambar dibawah adalah peta titik/simpul rencana pembangunan waterfront yang akan dilakukan oleh pemerintah kota Pontianak, aktifitas serta fasilitas yang mewadahinya bertemakan wisata tepian air dengan tema latar belakang sosial budaya (karakter lokal) masyarakat kota air. Pembangunan dan pengembangan ini akan menciptakan titik/ simpul perjalanan wisata di tepian sungai kapuas dan daerah wisata lainnya di kota pontianak baik dalam maupun sekitarnya.Gambar 1.2 : Peta Titik Perencanaan Pontianak Waterfront. Sumber: Kerjasama Pemerintah Kota Pontianak dan PT. Arsekon Khatulistiwa. 2001. 1.1.4 Taman Alun Sebagai Obyek Wisata Rekreasi Air di Tepian Sungai Kapuas Kawasan taman Alun merupakan salah satu titik/simpul dari rencana pembangunan waterfront yang direncanakan pemerintah kota Pontianak, bertemakan wisata tepian air dengan tema latar belakang sosial budaya (karakter lokal) masyarakat kota air.4Pemerintah Kota Pontianak, op. cit6Letak dan lokasinya sangat strategis karena berada dipusat kota, memiliki kedekatan akses dengan fasilitas penginapan, restoran, perbankan, pusat komersil, dan transportasi lokal yang memungkinkan wisatawan berpegian ketempat itu. Pada saat ini atraksi utama rekreasi yang terdapat pada kawasan taman alun lebih terfokus pada aktivitas rekreasi air namun fasilitas yang ada masih sangat minim hanya berupa perahu anak, restoran dan gazebo terapung, serta komedi putar. Aktifitas dan fasilitas yang ada tersebut juga belum tertata dan terkelola dengan baik. Penataan bangunan yang ada masih semerawut ditambah dengan keberadaan pedagang kakilima yang mendirikan warung-warung tenda disekitar kawasan tanpa penataan yang jelas. Sebab itu perlu dilakukanya penataan dan pengembangan kembali terhadapfasilitas rekreasi air pada kawasan taman Alun, dengan maksud dan tujuan: Untuk menjadikan kawasan rekreasi di taman alun menjadi lebih baik, lebih tertata, lebih berpotensi untuk dapat meningkatkan pertumbuhan pendapatan ekonomi masyarakat di sektor pariwisata, dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan sarana rekreasi yang memiliki kesesuaian dengan karakter kota pontianak yang bertipikal kota air. Adapun rencana dari penataan dan pengembangan tersebut, yaitu: Menata dan mengembangkan fungsi yang telah ada dalam cakupan yang lebih luas, serta memasukan unsur-unsur rekreasi tepian air yang berlatar belakang karakter lokal (sesuai dengan rencana pemerintah) kedalam perencanaan aktifitas dan fasilitas rekreasi serta perencanaan desain bangunan yang memperhatikan konsep pembangunan kawasan tepian air, karakter lokal (lingkungan, sosial budaya) dan iklim lokal, kedalam perancangan desain bangunan sehingga dapat menciptakan bangunan rekreasi yang bercitra karakter lokal dan memiliki kesesuaian dengan kondisi iklim lokal. Untuk dapat menyesuaikan dengan kondisi iklim perlu diperhatikan keadaan dan kondisi iklim lokal, adapun keadaan dan kondisi iklim lokal disekitar kawasan, yaitu: Kota Pontianak yang dilalui oleh garis khatulistiwa memiliki ciri-ciri kondisi iklim; Curah hujan tinggi, suhu dan kelembaban rata-rata harian yang tinggi, radiasi sedang sampai kuat, dan sinar matahari yang menyinari sepanjang tahun. Unsur- unsur iklim tersebut membentuk iklim tropis, dapat digolongkan kedalam tropis basah yang memiliki factor- faktor iklim yang harus menjadi pertimbangan dalam desain bangunan. 7Faktor-faktor iklim tersebut meliputi; Alur radiasi dan cahaya matahari, suhu, hujan, kelembapan, angin, dan lain- lain. Selain hal tersebut ada hal- hal penting lainnya yang harus diperhatikan dalam perancangan bangunan pada daerah beriklim tropis basah, yaitu: Tatanan masa, orientasi bangunan, ventilasi silang, proposi, fasade, serta atap bangunan. Dalam kaitanya dengan kondisi tapak, kondisi topografi, karakter lingkungan tepi air juga patut menjadi pertimbangan karena hal tersebut juga me rupakan element pembentuk iklim lokal. Melalui pertimbangan-pertimbangan tersebut, diharapkan bangunan yang ada pada pengembangan fasilitas rekreasi air di taman Alun dapat memberikan kenyamanan bagi penghuni/pengguna bangunan, memberikan penghematan sumber daya energi kepada pemilik, keawetan dan ketahanan struktur bangunan, serta keamanan dan kepuasan bagi pengguna bangunan pada kawasan rekreasi air di taman alun.

File: Bagian Pendahuluan
Citation APA Style:

M., F.S.H. (2008). Pengembangan Fasilitas Rekreasi Air Di Tepian Sungai Kapuas (taman Alun) Pontianak, Kalimantan Barat Arsitektur Tropis Sebagai Acuan Desain Bangunan. (Undergraduate thesis, Duta Wacana Christian University, 2008). Retrieved from http://sinta.ukdw.ac.id

Find us on Google+